Kamis, 14 Mei 2020

Ramadan Tanpamu (1)

#tantangan_gurusiana_hari_ke50_24042020
Cerita Bersambung

Ramadan Tanpamu (Bagian 1)

Ku seka bulir bening yang jatuh di atas sajadah.
"Ini hari pertama Ramadan, Yah."

Sesaat aku gamang memasuki kamar kosku. Ada perasaan rindu memuncak pada rumah.
Entah mengapa.
Ku rebahkan tubuhku tanpa berganti baju. Mataku baru saja terpejam saat Nia, teman sekos membuyarkan mimpiku.
"Ami. Bangun. Ada telepon untukmu."
Aku tergagap.
Refleks ku raih HPku. Mataku nanar menatap layar HP.
"Mana, ga ada?"
Aku kembali memejamkan mata.
"Iiih, Ami. Bangun. Ada telpon untukmu. Itu di rumah Ibu."
Aku mengernyit heran.
"Di rumah Ibu? Tumben."
"Makanya, ayo bangun. Sana tanya Ibu. Telepon dari siapa."
"Kepo, ni ye?"
Nia merajuk, bibirnya dibentuk memble,  persis mulut anak itik.
Aku terkekeh.
Beranjak dari tempat tidur dengan rasa enggan.

Ku turuni tangga kos menuju rumah Ibu, indul semang kami.

Ibu orang baik. Beliau menganggap kami semua anak-anaknya. Tak ada bedanya dengam anak kandunh sendiri. Kami juga berusaha untuk tidak menyakiti perasaannya. Sepeninggal Bapak kos, kami bergantian menemaninya. Seperti piket saja. Tapi tanpa rasa terpaksa. Kami sudah terbiasa curhat dengan Beliau dan bercanda dengan anak-anaknya.

Ku ketuk pintu perlahan.
Beliau mempersilakanku masuk.
"Duduklah, Ami." katanya lembut.
Kelembutan tututr kata Beliau tetiba berubah menjadi petir yang menggegelgar di siang bolong. Aku menjerit histeris. Tak percaya.
"Nak Ami. Istigfar, Nak. Nak Ami. Istigfar..."
Gelap sekitarku.

Aku terbangun oleh gerakan tangan halus Nia di keningku.
Aku melihat. Kedua mata indahnya sembab. Ingus masih sesekali dia isap. Jorok.
Melihatku terbangun, dia memaksakan senyumnya.
"Aku antar kau pulang sekarang, Ami."
"Aku ikut." Syifa menimpali.
"Pakai grab car, aja. Biar cepet. Aku yang bayar." Rianti ikut bercakap.
"Ayo, siap-siap, Girls."
Badanku lemas tak bertenaga.
"Tiduran saja dahulu
Aku bantu berkemas, Ami."  Nia bersikeras memaksaku kembali rebah.
Aku menurut. Kepalaku pusing. Bumi berputar.
Sekelilingku berputar.
Oh, tidak. Aku yang berputar.

Film lawas terpampang nyata di kelopak mataku.
"Kau baik-baik di sana. Jaga diri. Jangan suka keluyuran dan pulang malam ga jelas. Kamu perempuan."
"Ya. Insyaa Allah, Yah." janjiku pamit padanya.
Setahun lalu.
Aku berkemas setelah puas mudik lebaran di rumah.
Ayah, Ibu, Kakak, adik dan kerabat mengantar kepergianku. Jakarta.
Kota yang berhasil ku taklukkan dalam kurun waktu 2 tahun ini.
Aku kembali. Agar bisa kembali berdesakan dan berebut dengan penumpang lain di bus. Agar bisa merasakan stres saat deadline pekerjaan ditetapkan. Agar bisa menikmati udara pengap berpolusi dan merasakan segarnya udara malam di langit pucat, kota metropolitan.

#bersambung


Reni Sularsih_Ungaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Luka di Sini

Patah hati terperih adalah saat kau abaikan segala rasaku. Luruh. Kau dekat namun tak lagi bisa kugapai. Diam dalam sinyal cinta yang ...