Selasa, 05 April 2022

Senyata Mimpi

 Senyata Mimpi

******

Magrib membayang.

Mataku menangkap siluet seorang perempuan turun dari angkot samping rumah.

Dia berjalan perlahan membawa termos. Aku mengejarnya. 

"Mba Wati.. Gimana kabar Mas Wik? Kok, ga ditungguin?"

"Dia masuk ICU. Ada keluarga lain yang nunggu. Gantian."

"Ga bisa dijenguk?"

"Bisa."

"Ya. Insyaallah aku besok ke RS, ya Mba. Hati-hati. Sampai ketemu besok. Assalaammu'alaikum."

"Wa'alaykum  salaam."

Dia berjalan pergi.

Aku berbalik. Tepat saat aku melihat seorang gadis kecil meletakkan adiknya di tanah, berdiri dan berbalik.

Dhezzz.

Dada kami bertubrukan tanpa sengaja.

Tidak keras. Hanya sama-sama kaget.

Si gadis malah sempat meminta maaf padaku. Aku tersenyum dan berlalu.

"Piknik keluarga apa, Magrib malam Jumat di tanah seperti ini?"

Batinku heran.

"Ibu. Kenapa tadi Ibu berlari kencang sekali? Telingaku sakit." Teriaknya kesakitan.

Aku yang baru saja melangkah sekitar 5 kaki sangat terkejut dan kembali untuk melihatnya. 

Refleks ku kirim chat ke Puskesmas seberang jalan, sharelock dan minta ambulance.

"Lah.. Ibu ga lari, Nak. Tadi kita juga ga jalan. Pas saja berpapasan."

Aku panik langsung meraihnya. Ku lihat telinganya memerah.

Aku mengusapnya sambil baca selawat.

Ayah Ibunya hanya menatapku bingung. Sebab mereka juga tadi melihat kejadiannya langsung.

"Bapak. Telingaku mencair."

Matanya terpejam.

Aku tambah panik.

Tanganku bergetar.

Temanku yang petugas puskesmas sudah datang membawa ambulans, langsung menerima si gadis.

Mengusap cairan yang keluar dari telinganya.

"Ini kena gendang telinganya, Bu."

OMG. Sedahsyat itu?

"Tapi tadi pelan."

Dia tersenyum menenangkanku.

Lalu bicara pada temannya untuk mengangkat tubuh si gadis bersama-sama,

"Berani? Walla'hu. Bismillah. Innamma amruhu idzaa aradzaa sya'ian an yakulallahu..." 

"Kun fayakun." bertiga kami mengucap kalimat akhir itu dan bangkit.

Demi Mas Wik di ICU. Aamiin.Lanjutku dalam hati.

Mereka membawanya.

Keluarganya turut serta.

Aku meminta maaf pada mereka. Aku bilang aku akan menyusul.

Aku pulang, mengambil tas dan mengunci pintu.

Lalu bergegas ke Puskesmas.


Di puskesmas, sudah ada 2 orang polisi.

Aku ceritakan detail kejadiannya.

Semua heran. Keluarganya jadi saksi. Kejadiannya sangat cepat cuma dalam hitungan detik. Sampai-sampai.. Mereka mengira aku punya kekuatan super. 

Lalu aku tersadar. Aku meraih liontin kesehatan di dadaku.

Kukeluarkan lalu kuletakkan di meja interogasi.

"Apa mungkin kena ini ya, Pak?"

"Bisa jadi, Bu." 

Mereka membungkus liontin kesehatanku dan memasukkannya ke  dalam plastik sebagai barang bukti.

"Bisa kita rekonstruksi ulang kejadiannya, Bu?"

Aku mengangguk.

Bersama Ayah Ibu si gadis, dan Mba Wati, sebagai saksi di TKP petang itu,  aku melakukan hal yang diminta.

Difoto beberapa kali.

Menjawab aneka pertanyaan.

Mereka menarik kesimpulan jika itu memang kecelakaan, tidak sengaja.

Aku terdiam. Pasrah.

Siap mendekam di penjara jika hal buruk terjadi.

Kun Fayakun!


*********

Aku terbatuk lalu terbangun.

Duh, Gusti. Mimpiku sedemikian jelas dan runtutnya.

Ku cium lagi semerbak bau wangi.

Dari kemarin. Bahkan kentut ku pun tercium wangi. Ah, ada-ada saja.

Ku lihat HP. Pukul 03.30. Saatnya sahur.

Ada 2 notif WA.

Kubuka.

Astagfirullah.

Ada kabar dari Mbakyu ipar Bekasi.

Mas Wik hilang kesadarannya. Mana tabung O2 kosong.

Ga ada dana.

Astagfirullah.


Beberapa video yang dikirim, membuat mataku sembab, dan dadaku kian sesak. 

Napasku memberat.

Hingga aku pijat dua kali, Sabtu dan Senin.

Otot tulang rusuk terkilir saat batuk. Allahu Rabbi.

Aku sadar.

Aku harus ikhlas menerima ini semua.

Sakit sekali hatiku melihat keadaan Mas Wik yang kritis dalam posisiku yang sedang sakit.

Semoga ada pertolongan dari Allah. Aamiin.

**********

Jadi inikah firasat mimpiku kemarin?

Terasa nyata.


Mas Wik dah pamit padaku lewat mimpi.

Inna lillahi wa inna illayhirojiuu'n.

😭😭😭


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Luka di Sini

Patah hati terperih adalah saat kau abaikan segala rasaku. Luruh. Kau dekat namun tak lagi bisa kugapai. Diam dalam sinyal cinta yang ...