Selasa, 04 Maret 2025

Luka di Sini

Patah hati terperih adalah saat kau abaikan segala rasaku. Luruh. Kau dekat namun tak lagi bisa kugapai. Diam dalam sinyal cinta yang tak pernah terkirim. Ego kita bicara. Bertahan. Meski aku tak paham apa lagi yang bisa dipertahankan. Cukup satu kata: Luka! 💔🥹

Sabtu, 07 Desember 2024

Lisan

Tak perlu jadi hebat lalu membabi buta menghakimi kesilapan orang lain. Tak perlu jadi pahlawan kesiangan yang meneriakkan keadilan, jika kau pun sama sepertinya, tak mampu menahan kejamnya lisan. Ucapkanlah doa jika kau merasa tersakiti. Ghafarrallahu laka (semoga Allah mengampunimu). Ini lebih baik daripada kau cari masalah dengannya. Tak perlu jadi sok berkuasa yang menyatakan bahwa dia layak menerima caci maki kita. Betapa sombongnya. Lupakahkau siapa dirimu di mata Allah? Tak lebih dari seorang hamba sahaya. Lalu mengapa kau bisa menghakimi sesama sedemikian kejamnya? Tak perlu ikut-ikutan trend lalu memviralkan segala sesuatu. Itu bukan wewenang kita. Itu hak prerogatif Allah. Sebab sepanjang hamba memaafkan kekhilafan sesamanya, Allah akan membuka lebar-lebar pintu taubat-Nya. Lalu, sudahkah kau gantian meminta maaf pada dia yang kau caci? Ungaran, 8 Desember 2024. Maaf jika kuakhiri saja persahabatan kita karena aku sangat tak suka lisan tajammu itu.

Senja di Legok

Tatapan mata elangmu menelisik relung hatiku Semburat merah merona di senja kala itu Tak mampu enyahkan pesonamu Aku tetap merindumu. Pematang terdiam bisu Meski terhampar indah bak permadani sutra ungu Ia tetap tak mampu menyapa kelebat sesaat hadirmu. Kangen sawah Legok, Oktober 1994 - Oktober 2024

Luka di Sini

Patah hati terperih adalah saat kau abaikan segala rasaku. Luruh. Kau dekat namun tak lagi bisa kugapai. Diam dalam sinyal cinta yang ...